met berkunjung

Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang
Tampilkan postingan dengan label Masjid. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Masjid. Tampilkan semua postingan

16 Desember 2009

Menara masjid

Pengusaha Swiss Protes Larangan Menara Masjid


warnaislam.com — Sebagai ekspresi ketidaksetujuan atas larangan menara masjid di Swiss, seorang pengusaha non-Muslim Swiss membuat bangunan mirip menara masjid di gedung miliknya di sebelah barat kota Laussane. “Referendum soal pelarangan menara masjid itu memalukan,” kata sang pengusaha, Guillaume Morand, pemilik jaringan tokoh sepatu, kepada Agence France-Presse (10/12.

Ia menegaskan, bangunan mirip menara masjid yang dibuatnya merupakan protes atas larangan menara dan mengirimkan pesan damai.

Lebih dari 57% rakyat Swiss menyatakan setuju pelarangan menara dalam referendum yang digelar Ahad (29/11) atas usulan partai sayap kanan anti-Islam, Swiss People's Party (SVP). Partai terbesar di Swiss ini berhasil mengumpulkan 100 ribu tanda tangan dalam 18 bulan untuk memaksakan referendum. SVP menilai menara masjid merupakan simbol Shari`ah Islam dan karenanya tidak sesuai dengan sistem hukum Swiss.

Morand menyayangkan partai-partai politik lainnya di Swiss yang cuma diam dan tidak melakukan tindakan apa pun untuk melawan referendum yang digagas Partai Rakyat Swiss itu. "Mereka menyatakan menentang larangan itu, tapi tidak membeberkan sikapnya dengan jelas tentang penolakan mereka kepada publik negeri ini," kata Morand.

Bangunan mirip menara masjid yang dibuat Morand menjadi pusat perhatian. Morand mengatakan akan melihat perkembangan situasi, apakah ia akan mengambil tindakan lebih lanjut untuk menyampaikan pesannya untuk menentang larangan menara masjid itu.

Saat ini ada sekitar 160 masjid dan ruang shalat di Swiss, kebanyakan bekas pabrik dan gudang. Hanya ada empat masjid yang menggunakan menara, tak satu pun digunakan untuk mengumandangkan adzan. Kaum Muslim Swiss ditaksir mencapai 400 ribu jiwa.

Organisasi Konferensi Islam (OKI) mendesak otoritas Swiss untuk menganulir hasil referendum tersebut. OKI mengingatkan, referendum itu berpotensi ditiru oleh negara-negara Eropa lainnya. "Otoritas Swiss bisa memanfaatkan parlemen dan perangkat hukumnya untuk membatalkan referendum itu," kata Duta Besar Pakistan, Zamir Akram. "Di Jenewa sudah terjadi serangan dan aksi vandalisme terhadap masjid-masjid. Ini merupakan trend yang berbahaya."

Peringatan OKI sudah terbukti. Tokoh anti-Islam Belanda dan pemimpin Dutch Freedom Party, Geert Wilders, mendesak pemerintah Belanda menggelar referendum serupa.

Di Belgia, kelompok sayap kanan Vlaams Belang mengusulkan pelarangan menara di negaranya. Desakan serupa dikemukakan kelompok anti-imigran di Italia, Northern League.

masjid kamboja

Mengaku Muslim, Tetapi Belum Di Khitan

Ket.Foto : Bersama Tuk Hakim panggilan untuk tetua kampung orang yang berhak menikahkan pasangan yang akan melangsungkan perkawinan di kampung yang sama di provinsi Phang Rang Vietnam sebelah kiri saya adalah Imam Masjid bernama Haji Yahya melaksanakan syariat Islam, di sebelah kanan adalah Tuk Hakim dari Suku Champa Bani Imam masjid yang hanya shalat jumat saja itu pun hanya dua kali sebulan dan jamaah tak perlu shalat di wakilkan 19 Imam yang diangkat, kedua mereka ini adalah abang beradik kandung.

Hampir tiga pekan lamanya saya dalam perjalanan ke negara – negara tetangga Asean yaitu sejak Ahad 22 Nopember 2009 pagi dari Batam Indonesia, menuju Singapura, dari Singapura melalui Malaysia menjuju Thailand dan berqurban di satu provinsi paling utara disana yaitu provinsi Chiang Rai.

Pada Sabtu (5/12) pekan lalu dengan mini bus dari Phnom Penh saya menuju ke satu provinsi Rattanakiri namanya salah satu provinsi paling utara di Kamboja yang berbatasan langsung dengan Vietnam.

Hampir dua belas jam perjalanan, berangkat pukul 6 pagi tiba di sana menjelang magrib, tak sulit mencari rumah kediamana orang orang suku Champa, dengan memberikan telepon genggam kepada supir bus mini (ven orang disana menyebutnya), tiba di rumah seorang kepala suku champa (orang yang dituakan) Tuk Hakim, panggilan kepada kepala suku champa di situ, dirumah nya malam itu saya menginap.

Di situ pula telah menaunggu ustaz Abdullah pria (32) asal provinsi kampong Champa, dengan dua orang teman nya sebaya dan sesama dai yang di tempat kan di beberapa kampung suku suku bukit masih satu klan dengan suku champa. Di Kamboja ada 36 provinsi.

Banyak hal yang kami bicarakan malam itu diantara nya jalan ke provinsi itu baru saja dapat dilalui dengan bus satu hari seperti sekarang ini. "Sebelum nya untuk mencapai ke mari diperlukan minimal 5 hari perjalanan " ujar ustaz Abdullah, Tok Hakim tersenyum senyum mendengar nya karena beliau kurang faham bahasa melayu.

Sebagaimana di rencanakan pagi esok Ahad (6/12) kami akan kembali ke Phnom Penh -Ibukota negara Kamboja, dengan menyewa taxi sebesar 120 US $, sebelum kembali ke Ibukota Negara yang sekarang sedang bertelakah dengan Thailand ini Duta besar masing masing sudah tidak ada di tempat jadi suasana memang agak memanas.

Kami akan mengunjungi tiga buah kampung, bersama ustaz Abdullah, ustaz muda yang baru berusia 32 tahun ini tinggal di kampung yang sangat terpencil Kampung Song Kat namanya, dari wilayah Rattanakiri dengan taxi yang kami sewa tadi jauh perjalanan di tempuh selama satu jam, arah ke timur dekat perbatasan dengan Vietnam

Ada tiga buah masjid di tiga buah kampung yang berlainan, masjid masjid tersebut sama persis bentuk dan ukuran dan warnanya, karena memang di bangun oleh hartawan dari Kuwait, di ketiga kampung berjarak puluhan kilo meter itu juga di tempat kan dai dai muda oleh Muhammadiyah Internasional, mereka berbaur dan tinggal dengan penduduk asli kampung tersebut.

Di Kamboja terdapat lebih satu juta penduduk muslim dari keturuan Champa, banyak diantara mereka yang hanya mengaku beragama Islam, terutama di daeah utara tadi, dan di beberapa provinsi lainnya, dan yang paling banyak muslim nya berada di provinsi Champa, kalau kita naik bus dari Phnom Penh kurang lebih tiga jam perjalalan.

“Di provinsi Rattanakiri ini hampir semua muslim adalah muhajirin” jelas ustaz Abdullah, maksud nya orang champa yang merantau datang ke kesitu baru sekitar 5 tahun lalu, “Dulu jalan yang kita lalui ini adalah jalanan gajah, oleh penduduk vietnam dan kamboja, karena mereka memang bersaudara” tambah ustaz Abdullah lagi. Dan memang bahasa di perbatasan antara Kamboja dan Vietnam itu sama belaka.

Jalanan Gajah itu kini sudah mulus, kami masuk ke vietnam dari kamboja, hanya berjalan kaki, tanpa pemeriksaan imigrasi, meskipun disitu terdapat petugas imigrasi dan bea cukai, dia hanya melihat muka dan tentunya ada seorang warga masing masing negara yang menjaminnya, karena muka orang indonesia sama dengan vietnam dan kamboja.

Mereka tak mencurigakan petugas yang berada di border (perbatasan) melihat saya dan membiarkan kami berlalu dari Kamboja ke Vietnam. Padahal sebelum nya Jumat (5/12) dari Chou Doc Vietnam saya masuk ke Phnom Penh dengan ferry harus membayar sebesar 25 US $ sekali masuk meskipun sesama negara asean warga negara indonesia di kenakan visa kunjungan.

Jalanan gajah, tak terbayangkan dulu kawasan itu memang banyak gajah, dan memang terlihat di sepanjang perjalanan pohon bambu memenuhi hutan di kawasan itu, dan hingga sekarang pun hasil hutan dan pertanian lainnya dari provinsi paling utara kamboja yang juga berbatasan dengan negara Laos itu tersedot ke Vietnam , “seluruh sepanjang jalan ini di bangun oleh kerajaan Vietnam” jelas ustaz Abdullah yang dulu pernah belajar di Sei Golok Malaysia itu sehingga dengan fasih dia dapat berbahasa melayu logat Kelantan tentunya.

Islam di Phnom Penh, hampir memenuhi di sepanjang pantai sei Mekong, salah satu sungai terpanjang di dunia itu melalui beberapa negara, sampai ke Kamboja, di sepanjang tepi sungai yang kami lalui banyak terdapat masjid masjid, tetapi sama dengan keberadaan muslim di Vietnam di Kamboja pun ratusan ribu muslim yang mengaku muslim belum dapat sembahyang.

Mereka terkadang untuk mengucapkan syahadat saja pun mereka susah, terlebih ada sebuah kaum yang menyebut kaum nya adalah Islam Sejati semacam Islam Bani kalau di Vietnam , yang seluruh pengikut nya tak perlu sembahyang cukup di wakil kan kepada Imam nya saja, dan para Imam itu pun tak sembahyang (shalat) lima kali sehari semalam, tak berpuasa sebagai mana lazimnya , mereka cukup sebulan dua kali saja.

Di Kamboja terdapat dua mufti Islam , satunya ya itu tadi mufti bagi orang orang suku Champa yang mengaku Islam tetapi tidak shalat. “Tetapi mereka pun tak nak bertukar agama dengan agama yang lain” jelas ustaz Abdullah lagi di sepanjang perjalanan kami menuju Phnom Penh. Karena ada beberapa rumah Ibada agama non Islam yang terdapat juga di sepanjang perjalanan. Dan yang lebih menarik lagi persis di samping masjid yang sudah di bangun oleh hartawan dari Kuwait tadi , pun berdiri juga rumah ibadah non Islam.

Mereka belum di Khitan

“Mereka masih memelihara babi” ujar ustaz Abdullah lagi, ustaz yang baru di karuniaa anak satu ini, juga bercerita tak satu pun dari mereka yang berkhitan, hal itu saya tanyakan langsung kepada beberapa penduduk yang berada disitu. Ternyata memang seluruh mereka yang berjumlah ribuan itu belum pun di khitan.

Khitan menanda kan seorang muslim bukan saja tak dilaksanakan di Kambjoa tetapi di Vietnam pun puluhan ribu orang yang mengaku muslim dari suku Champa belum di khitan, dengan tersipu malu malu tuk hakim sebutan untuk ketua orang orang dari suku champa itu ada juga yang belum di khitan.

“Disina tak satu pun ada dokter yang muslim” ujar ustaz Abdullah lagi, itulah salah satu permintaan beliau seandainya ada universitas kedokteran yang mau menerima dan menanggung bea siswa bagi pelajar dari Komboja utuk belajar di Indonesia. “Apakah Muhammadiyah mau menampung pak ” pinta ustaz Abdullah lagi, karena sebagai mana di ketahui oleh ustaz yang berjuang dan berdakwa di daerah terpencil dengan kehidupan seadanya itu tahu kalau Ormas seperti Muhammadiyah banyak memeliki Universitas.

Ustaz Abdullah tahu kalau saya dari Muhammadiyah Batam tetapi dia tak tahu kalau saya adalah anggota biasa saja, yang tak punya akses ke perguruan Muhammadiyah apalagi yang menyangkut bea siswa, tetapi sungguh terharu, melihat anak anak dan keluarga dari suku Champa (chere mereka menyebut nya satu dari bagian dari suku Champa) ini yang tetap mengaku muslim selama hampir 400 tahun kerajaan Champa "hilang" dari muka bumi ini, terdampar di berbagai negara, tinggal di pelosok pelosok di bukit bukit dipinggir pinggir laut di di tepi pantai, nyaris tak terpantau saudara saudara mereka sesama Muslim.

Malam itu menjelang Isya kami sampai di Provinsi Kampong Champa, kerumah ustaz Abdullah dibesarkan oleh orang tuanya yang telah berpulang kerahmatullah sejak ia berusia 12 tahun, rumah kayu berpanggung hampir setinggi 4 meter itu terlihat kusam. Ustaz Abdullah adalah bungsu dari 5 bersaudara, dari satu pondok ke pondok lain dari satu madrasah ke madrasa lain dia belajar agam Islam, tak hanya di Kamboja saja di belajar jauh sampai ke Thailand Selatan di Sei Golok dan juga ke Malaysia.

Malam itu pun kami di jamu makan oleh tetangga ustaz Abdullah, yang kebetulan seorang putra dari sang empunya rumah itu dan 4 orang temann ya akan belajar di Indonesia mendapat bea siswa dari Mahad Said bin Zahid Batam yang terletak di Batu Aji di Komplek Perguruan Muhammadiyah Asean yang baru akhir tahun ini dibuka dan menerima pelajar pelajar khusus ditujukan kepada pelajar dari negara tetangga asean diberikan bea siswa.

Dan memang perjalanan saya kali ini ke beberapa negara tetangga salah satu nya memberitahukan keberadaan Mahad Said bin Zahid di maksud.Dan sengaja pula kedatangan saya ke Provinsi Kampong Champa itu hendak melihat calon pelajar mahad dan bertemu dengan keluarga mereka.

Wassalam

15 Desember 2009

Kenapa masjid sepi

Ada banyak faktor yang menyebabkan mengapa jamaah kita tidak mau mengikuti kegiatan di masjid. Saya akan menyebutkan faktor-faktor tersebut lalu anda menilai sendiri apa yang menjadi sebab yang dialami di masjid anda

Pertama, kurangnya keteladanan dari sebagian pengurus masjid, ini berarti sebagian pengurus masjid sendiri tidak ikut serta secara aktif dalam kegiatan masjid. Kalau pengurus masjid yang jumlahnya sekitar 20 orang itu ikut dalam kegiatan masjid, tentu pengajian sudah bisa berjalan dengan baik, apalagi kalau pengurus itu mengajak isterinya maka sudah 40 orang, kalau kemudian pngurus itu masing-masing membawa satu anaknya yang dewasa maka sudah 60 orang. Dengan demikian pengajian rutin akan selalu dihadiri banyak orang ditambah dengan jamaah yang berasal dari luar.

Kedua, belum adanya arahan program yang jelas sehingga kegiatan yang diselenggarakan terkesan asal ada. Pengajian misalnya tidak jelas apa saja materi pembahasan yang akan dilakukan. Apakah materi tersebut sesuai dengan kebutuhan jamaah atau tidak, akibatnya jamaah enggan untuk hadir karena materinya tidak menarik, karena itu kegiatan seperti pengajian rutin semestinya dikembangkan secara klasikal sehingga materinya disesuaikan dengan kebutuhan jamaah, sedangkan kegiatan ceramah umum sifatnya insidental. Yang sekarang banyak terjadi justeru pengajian kita di masjid selalu dalam bentuk pengajian umum.

Ketiga, kegiatan masjid selama ini berlangsung tanpa meminta komentar atau pendapat dari jamaah, sehingga kegiatan itu atas keinginan sepihak dari pengurus, atau bahkan sebagian dari pengurus. Idealnya kegiatan masjid merupakan kegiatan yang dikehandaki secara bersama-sama melalui musyawarah sehingga kegiatan itu merupakan sesuatu yang memang dibutuhkan dan disenangi oleh pengurus dan jamaah masjid.

Keempat, motivasi jamaah yang rendah untuk meningkatkan kualitas iman dan menambah pengetahuan, karenanya menjadi penting untuk selalu mengingatkan jamaah akan pentingnya aktivitas masjid untuk diikuti. Penting juga bagi pengurus masjid melakukan pendekatan pribadi kepada jamaah agar mau ikut serta dalam kegiatan masjid.

Kelima,nyok kite ramaikan dan makmurkan mesjid kite...siape lagi kalo bukan kite..
Jangan sampai mesjidnya begitu mewah sementara jemaah nya hanya sedikit..

Tak ada azan di Singapura

Tak Ada Kumandang Adzan di Singapura


Singapura sudah terkenal sebagai negara yang menjembatani kepentingan Yahudi di Asia Tenggara. Tidak heran jika kemudian negeri ini menjadi “basis” Yahudi di kawasan ini. Lantas, bagaimana dengan Islam di sana?

Ada 15 persen penduduk Singapura yang Muslim. Sebagian besar orang adalah Melayu. Pengikut lain termasuk dari komunitas India dan Pakistan serta sejumlah kecil dari Cina, Arab dan Eurasia. 17 persen dari Muslim di Singapura berasal dari India. Sementara mayoritas Muslim di Singapura secara tradisional adalah Muslim Sunni yang mengikuti mazhab Syafi'i, ada juga Muslim yang mengikuti mazhab Hanafi serta sedikit Muslim Syiah.

Islam di Singapura tidak bisa dipisahkan dari sejarah kolonial. Pada tahun 1915, penguasa kolonial Inggris mendirikan Dewan Penasihat Islam. Dewan ini bertugas untuk memberikan nasihat kepada penguasa kolonial mengenai hal-hal yang berhubungan dengan agama Islam dan adat-istiadatnya.

Adzan Tak Boleh Dikumandangkan

Seperti di negara-negara sekuler lainnya, Islam di Singapura tidak mendapatkan tempat yang cukup. Misalnya saja, tidak boleh ada kumandang adzan. Seseorang boleh melakukan adzan di masjid, namun suaranya tak boleh keluar dari masjid. Ini yang diberlakukan oleh MUIS (Majelis Ugama Islam Singapura)—sebuah lembaga semacam MUI di Indonesia yang memegang penuh otoritas beragama Islam di sini.

Apa alasannya? Ini supaya orang non-muslim yang mayoritas tidak terganggu. Tak ada usaha dari MUIS untuk melakukan protes dan aksi untuk memperbaiki keadaan ini.

Tapi, hal ini tidak berlaku di wilayah Masjid Sultan—salah satu masjid tertua di Singapura. Di sekitar Arab Street ini, adzan boleh dikumandangkan lewat speaker, dan menjalankan fungsinya sebagai pengingat dan pemanggil.

Saat ini di Singapura terdapat 69 masjid. Semua masjid ini dibawah admistrasi MUIS sepenuhnya.

Makanan Halal Lebih Terjaga

Namun berbeda dengan negara-negara lainnya, soal makanan, di Singapura lebih terjaga untuk orang Islam.


Di Singapura, setiap makanan dan restoran akan disertifikasi halal. Tak ada seorang Muslim pun yang makan di restoran tanpa label halal. Harga mungkin tetap sama, tapi proses penyajian dan isinya harus halal (misal: tanpa babi dan minyak babi). Bahkan di Indonesia sendiri pun tak begini.

Prospek Islam di masa depan

Singapura termasuk ketat dan cukup keras kepada para aktivis Islam. Mereka tak segan-segan mendeportasi mahasiswa Islam yang dinilai mempunyai komitmen terhadap perkembangan dakwah.

Aktivitas keislaman di Singapura pun otomatis tidak banyak. Dengan perkembangan seperti ini, sepertinya Islam di negeri Singa ini tak bisa berkembang terlalu banyak. Namun bukan berarti orang-orang Islam di sana pun berdiam diri. Hingga adzan bisa berkumandang di Singapura.

ditutupnya masjid di Azerbaidzan

Masjid di Azerbaijan

Inilah perjuangan Islam di sebuah negeri. Saat ini, masjid-masjid di Azerbaijan ditutup oleh pemerintahnya. Penutupan ini diberlakukan hanya beberapa bulan setelah undang-undang baru untuk memantau dan mengontrol imam masjid (ustad atau kiayi) diterapkan.

"Mereka menutup masjid kami setelah undang-undang yang baru dikeluarkan," kata Vidady Abasov, muazin dari Masjid Akhli Sunni di kota Ganca, kepada BBC News pada Selasa, 3 November. "Itu membuat kami marah. Mengapa mereka melakukannya?"

Pemerintah mengatakan masjid ditutup untuk pemulihan, namun hal itu dibantah oleh Abasov. "Faktanya adalah bahwa mereka tidak menyukai kami karena kami telah menghabiskan beberapa waktu di luar negeri," kata Abasov, yang mengatakan ia pernah tinggal di Asia Tengah. "Mereka pikir kami terlalu radikal."

Chechnya Yang Lain?

Penutupan masjid dalam dua bulan belakangan ini dikeluarkan setelah parlemen Azerbaijan mengesahkan undang-undang yang melarang siapa pun yang menerima pendidikan atau bepergian ke luar negeri menjadi imam masjid. Lebih jauh, mereka melarang gerakan wahabi di negara ini. Pada kenyataannya, tidak seperti itu.

Di bawah undang-undang baru, pemerintah telah mengambil langkah-langkah untuk memantau dan mengontrol imam masjid ini dan segala aktivitasnya—kecuali harus disetujui oleh pemerintah. "Kami dihadapkan dengan masalah radikalisme," kata Hidayat Orujov, Menteri Agama. "Orang tidak ingin kami semua menjadi Chechnya, Dagestan atau Ingushetia lainnya."

Di Azerbaijan, statistik resmi menunjukkan bahwa 90 persen penduduknya adalah Muslim,namun Negara dengan total populasi 8,2 juta jiwa itu adalah Negara sekuler.

Selain dari pemerintah, para jamaah masjid di Azerbaijan juga sering menghadapi terror. Pada tahun 2008, misalnya, sebuah granat dilemparkan ke dalam masjid Abu Bakar, dan menewaskan dua orang jamaah.

Tak Ada Wahabi, Kami Salafi

"Tidak ada ekstremisme di sini, dan kami menolak Wahhabi," tegas Suleymanov, seorang imam masjid. "Kami Salafi, bukan Wahhabi."

Imam Suleymanov memperingatkan pemerintah bahwa jika mereka terus mencoba untuk mencegah masyarakat untuk beribadah di masjid, maka justru akan menyebabkan persaan sakit hati dan menyebar radikalisme daripada mencegahnya.

Anar Valiyev, analis independen yang berbasis di Baku, setuju. Dia percaya pemerintah Azerbaijan melebih-lebihkan ancaman ekstremisme untuk memperketat kontrol atas agama dan untuk membatasi kebebasan beribadah. "Jelas ada organisasi-organisasi ekstremis di Azerbaijan," katanya kepada BBC.

"Mereka sebagian besar dilikuidasi. Dan pada beberapa titik, badan-badan penegak hukum tidak bisa berhenti."

"Anda punya tokoh-tokoh masyarakat yang pergi keluar negeri dan berkata Wahhabi adalah teroris dan itu hanya untuk menerapkan imej negatif pada agama ini."

Departemen Luar Negeri AS menyatakan keprihatinan atas penutupan masjid di Azerbaijan. "Ada perubahan pada konstitusi yang merongrong kebebasan beragama," Laporan Kebebasan Beragama Internasional menyatakan. Seraya menambahkan, "beberapa kemerosotan dalam status penghormatan terhadap kebebasan beragama oleh pemerintah (Azerbaijan)."

08 Desember 2009

Masjid Ayodhya

.Tragedi masjid Babri

Hari ini 6 Desember - 17 tahun yang lalu - menjadi hari yang sangat memilukan bagi kaum muslimin di India.

Masjid Babri kebanggaan mereka di Ayodhya harus hancur. Masjid Babri diruntuhkan oleh sekitar 150.000 orang dari kaum nasionalis Hindu ekstrimis pada tanggal 6 Desember 1992, dalam sebuah peristiwa yang sebelumnya sudah direncanakan, walaupun sebelumnya Mahkamah Agung India sudah melarang perusakan dan penghancuran masjid bersejarah itu.Kaum ekstrimis Hindu yang didukung oleh partai nasionalis India - Bharatiya Janata Party (BJP), dengan memprovokasi masyarakat hindu India menyatakan bahwa lokasi tempat berdirinya masjid Babri diyakini sebagai sebuah kuil Hindu yang dibangun untuk memperingati lahirnya Rama - yang merupakan inkarnasi dari dewa Wisnu dan penguasa Ayodhya yang kemudian dihancurkan oleh panglima perang Muslim Babur - Mir Baki. Sebuah klaim yang tidak didukung oleh fakta sejarah yang akurat.

Umat Islam India harus menangis, melihat masjid kebanggaan mereka harus hancur dalam sebuah penyerangan kaum ekstrimis Hindu tersebut. Masjid yang telah lama menjadi kebanggaan mereka - hancur dengan menyisahkan kepedihan yang mendalam bagi kaum Muslimin, tidak hanya muslimin India tetapi umat Islam di seluruh dunia.

Masjid Babri, atau Masjid Babur adalah sebuah masjid yang didirikan oleh Kaisar Mughal pertama India, Babur, di Ayodhya pada abad ke-16 Masehi. Sebelum tahun 1940-an, masjid ini dinamakan Masjid-i Janmasthan ("masjid tempat kelahiran"). Masjid ini berdiri di Bukit Ramkot (disebut juga Janmasthan ("tempat kelahiran").

Masjid Babri adalah salah satu masjid terbesar di Uttar Pradesh, sebuah negara bagian India yang memiliki populasi Muslim 31 juta orang. Walau ada beberapa masjid yang lebih tua di kota Ayodhya, sebuah daerah dengan populasi warga Muslim yang signifikan, termasuk Masjid Hazrat Bal yang didirikan oleh raja-raja Shariqi, Masjid Babri dianggap yang terbesar dikarenakan tempat berdirinya yang disengketakan.

Dalam bukletnya, Communal History and Rama's Ayodhya, Profesor Ram Sharan Sharma menuliskan, "Ayodhya tampaknya muncul sebagai tempat ziarah keagamaan pada masa kuno. Walaupun bab 85 Vishnu Smriti menuliskan daftar sebanyak 52 tempat ziarah, termasuk kota-kota, danau, sungai, gunung, dan sebagainya, Ayodhya tidak termasuk dari daftar ini." Sharma juga menyebutkan bahwa Tulsidas, yang menulis Ramcharitmanas pada tahun 1574 di Ayodhya, tidak menyebutkan tempat itu sebagai tempat ziarah. Setelah peruntuhan Masjid Babri, Profesor Ram Sharan Sharma bersama dengan sejarawan Suraj Bhan, M.Athar Ali dan Dwijendra Narayan Jha menuliskan pembahasan Historian's report to the nation tentang bagaimana rakyat memiliki pandangan yang salah bahwa di tempat tersebut dulunya dibangun kuil Hindu, juga tentang perlakuan perusakan yang dianggap vandalisme.

Konflik Berkepanjangan

Konflik kaum Muslimin di India dengan umat Hindu telah berlangsung sangat lama. Setidaknya kasus terakhir yang cukup menguras air mata kaum muslimin adalah pembantaian umat Islam India dalam kasus kerusuhan Gujarat pada tahun 2000 yang menelan sekitar 2500 orang umat Islam tewas terbantai dan sekitar 200.000 umat Islam Gujarat harus mengungsi.

Kerusuhan bermula ketika 59 peziarah Hindu tewas akibat kebakaran di sebuah kereta api yang pada awalnya dituduh dilakukan kelompok Muslim. Padahal, hasil penyelidikan kemudian menyimpulkan kebakaran itu tidak disengaja.

Pada insiden tersebut Umat Hindu melakukan pembalasan dengan membakar dan menjarah bisnis milik umat Islam, mereka juga menyerang dan membantai umat Islam, memperkosa dan memutilasi kaum Muslimah.

Dan perlu dicatat juga, otak dari pembantaian umat Islam Gujarat adalah Bharatiya Janata Party (BJP) yang juga mengorganisir penghancuran masjid Babri di Ayodhya pada tahun 1992.(fq/berbagai sumber)

Hubungi via :