met berkunjung

Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang
Tampilkan postingan dengan label Sulawesi Utara. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sulawesi Utara. Tampilkan semua postingan

24 Mei 2017

Kolam pemandian Air Panas 'Sumaru Endo'

Salah satu destinasi wisata yang terkenal di Sulawesi Utara adalah Danau Tondano. Tempat wisata danau ini terletak di desa Remboken, berjarak sekitar 30 km dari Ibu Kota, Manado atau 3 km dari Kota Tomohon . Area wisata Danau Tondano berada pada ketiinggian 600 m dpl dengan luas area mencapai 4.278 hektar yang melalui 3 kecamatan.

Danau Tondano dikelilingi oleh pegunungan yang terdiri dari Gunung, Tampusu, Lembena, Kaweng dan Gunung Masarang, pegunungan tersebut tingginya mencapai 700 m. Dari sisi danau Anda dapat melihat gunung Kaweng dengan jelas. Area Wisata Danau tondano meliputi tiga kecamatan yaitu Kakas, Eris dan Remboken.


Menikmati Sumaru Endo di Danau Tondano Sultra 

Biaya masuk ke objek wisata ini adalah Rp 4.000,00 ditambah asuransi. Anda dapat menikmati wisata yang menjadi daya tarik Danau Tondano yakni disebut “Sumaru Endo” Remboken dan Resor Wisata Bukit Pinus (dari Tondano menuju Toliang Oki).
Fasilitas yang ditawarkan Sumaru Endo antara lain seperti bungalow, kolam renang dan restoran. Selain itu, Anda dapat menemui jasa rental mobil, sewa alat renang dan perahu untuk membawa Anda mengelilingi danau yang luas ini. Perahu juga membawa Anda untuk menikmati keindahan Danau Tondano secara menyeluruh dari berbagai sudut pandang.
Mengingat letak danau ini yang diapit oleh pegunungan, maka kegiatan lainnya yang menarik di tempat ini adalah hiking (mendaki gunung) di sekitar danau. Hal ini tentu saja akan menyenangkan karena udara di lokasi wisata yang masih sangat sejuk alami. Namun ingat, karena tempat ini masih alami Anda harus membatasi jalur hiking Anda, jangan sampai tersesat, apalagi bertemu satwa berbahaya.
Ketika berkeliling di tengah danau Tondano, Anda akan menjumpai sebuah pulau kecil bernama Likri. Namun sayang, Anda tak dapat berhenti di pulau ini dikarenakan perahu yang ditumpangi harus mengikuti rute berbeda. Anda dapat menggunakan perahu yang di sediakan untuk para pengunjung dengan biaya Rp 50.000,00 namun Anda harus menunggu perahu tersebut penuh terlebih dahulu hingga 10 penumpang.Anda juga dapat melihat aktivitas masyarakat setempat ketika menangkap ikan Nike dengan menggunakan jaring. Ada yang unik dari jaring ini karena bentuknya menyerupai sendok dengan tongkat bambu pada kedua sisinya. Pemandangan tradisional nan alami seperti ini hanya akan Anda jupai di Danau Tondano, jadi jangan ragu untuk berkunjung ke tempat wisata menakjubkan ini!

Kuliner

Sajian yang dapat Anda nikmati di restoran dan warung makanan di sekitar danau adalah hidangan ikan Nike. Biasanya, penduduk lokal juga menjual ikan Nike kecil yang dibuat menjadi bakso ikan atau waku-waku bolanga (sejenis ikan bakar) untuk Anda bawa pulang sebagai oleh-oleh khas dari Danau Tondano.

Transportasi

Dari Manado atau Tomohon, Anda dapat menggunakan mobil pribadi maupun angkutan umum untuk mencapai Danau Tondano. Jarak dari Tomohon ke Danau Tondano sekitar satu jam dengan berkendara melalui jalan berliku.  Sedangkan jika dari Manado Anda harus menempuh perjalanan sekitar 9 jam untuk tiba di lokasi wisata ini.













04 Mei 2017

Danau Pangolombian, Tomohon Selatan Sul -Ut

Danau Pangolombian saat gerimis
Tidak banyak orang yang pernah berkunjung ke Danau ini,padahal lokasinya tidak jauh dari pusat Kota Tomohon dan hanya memakan waktu sekitar 30 menitan saja.

Danau ini terletak diatas Gunung Kasuratan,Desa Pangolombian Kecamatan Tomohon Selatan.

Untuk menuju danau ini pun sangat mudah.,bahkan bisa dijangkau dengan kendaraan umum route Tomohon - Pangolombian melalui jalan aspal yang mulus dan baik.

Pertigaan perbatasan Desa Pangolombian
Jika kita menggunakan kendaraan pribadi,dari jalan raya Tomohon - Kawangkoan, setelah Pertamina kita berbelok kiri ke Jl.Mercu Buana yang selanjutnya disebut Jl.Tomohon - Pangolombian. 
Jalannya cukup mulus,berasapal dan berkelok kelok.Mulai menanjak ketika akan memasuki Desa Pangolombian.

Di ujung perbatasan Desa Pangolombian kita akan bertemu dengan pertigaan,kita ambil yang ke kiri atau yaitu Jl.Pangolombian - Tondangow.
Sekitar 10 meter ke kiri dari pertigaan tersebut ada jalan aspal kearah atas yang menuju lokasi Danau Pangolombian.Jalannya tidak terlalu besar tapi cukup untuk kendaraan roda empat untuk sampai ke pinggir danau.
Jarak dari pertigaan ke danau hanya sekitar 200 meter.

Tepi Desa Pangolombian
Danau Pangolombian berada diketinggian 911 meter diatas permukaan laut.Jika cuaca cerah,dari lokasi danau kita bisa melihat pemandangan yang cukup bangus ke arah Desa Pangolombian dengan latar belakang Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi yang mengeluarkan asap putih membumbung tinggi yanhg kalo saya menyebutnya "Pabrik Asap"
Disekitar danau ada beberapa rumah penduduk yang bercocok tanam dan mungkin saja mengelola keramba ikan di Danau Pangolombian.




Keramba di Danau pangolombian
Danau Pangolombian luasnya hanya berkisar 1 Hektar saja.Saat digunakan untuk budi daya ikan tawar dimana terlihat dengan adanya beberapa Keramba yang berada diatas danau.
Pengelolaannya terlihat tidak maksimal.Tidak ada jalan atau tangga yang memadai untuk turun ke tepi danau.
Selain digunakan untuk budi daya ikan ,danau ini juga digunakan sebagai sumber air bersih,terlihat dari rumah Pompa dan Pintu air yang berada di tepi danau.

Rumah Pompa Danau Pangolombian
Area sekitar Danau Pangolombian terkesan sepi.Saat kita berkunjung kesana hanya ada beberapa pemancing ditepi danau dan beberapa orang saja yang berada di Keramba.

Lokasi Danau Pangolombian ini berada tidak jauh dari Danau Tampusu yang terletak di Gunung Tampusu atau sebelah utara Desa Pangolombian
Kemudian juga tidak jauh dari lokasi Danau Tiga Warna yang terkenal dengan nama Danau Linow





Pintu Air






Pemancing ikan



Lokasi danau tertutup pohon besar



Peta lokasi Danau Pangolombian



04 April 2017

Kecamatan Remboken, Minahasa

SEJARAH AWAL NAMA REMBOKEN 

Dulu kala, nama kampung Remboken adalah Kawatuan yg artinya "Tempat Berbatu". Disebut Kawatuan karena sesuai dengan kondisi wilayahnya yang memang terbentuk dari bebatuan.

Sejalan dengan waktu, nama Kawatuan kemudian berganti nama Remboken. Nama Remboken memiliki history yg lekat dengan suatu tempat yang sekarang bernama Sumaru Endo.
 
Pada sekitar abad ke-5, air danau Tondano masih menggenangi sebagian dataran rendah di daerah Kawatuan, sehingga Sumaru Endo sendiri ketika itu masih berbentuk sebuah pulau karena dataran rendah disekelilingnya masih tergenang air danau. Konon juga, terbentuknya daratan berbatu berbentuk pulau ini, terkait dengan Legenda Maengkom.

Karena posisi tempat itu menghadap arah matahari terbit, oleh penduduk menyebut tempat itu dengan nama Sumaru Endo, yang artinya Menghadap Arah Matahari Terbit…… (sepertinya, sebutan ini mirip dengan sebutan untuk negeri Nippon atau Jepang…. hehehe)…

Di tepi Sumaru Endo terdapat sebuah goa yang yang selalu kena hempasan ombak air danau, sehingga menimbulkan bunyi “rembok” (bunyi hempasan ombak), sehingga penduduk kemudian menyebutnya Rinembok atau Rinembokan yang artinya "tempatnya ombak menghempas" dan kemudian lebih disingkat dengan Remboken.
Dari sinilah nama Remboken mulai disebut penduduk sekitarnya, sehingga kemudian nama Kawatuan lama kelamaan menjadi Remboken hingga sekarang.

Nama-nama desa di Remboken serta history / asal-usul namanya:

1. Leleko : Desa ini memiliki banyak tempat permandian umum dari sumber air panas, sehingga menjadi tempat favorit penduduk Remboken untuk mandi. Setiap orang yang dating untuk mandi di tempat-tempat permandian, oleh penduduk desa akan bertanya,: “Le’le kou ? atau Lumele kou ? yang artinya “Apakah kamu mau mandi ?”….. Maka lama kelamaan istilah Le’le ko menjadi popular sehingga kemudian menjadi nama kampung tersebut, yaitu Leleko.



 2. Paslaten: Artinya, : “kampung terjepit”

 3. Talikuran: Nama arah mata angin “Barat”


 4. Timu : Nama arah mata angin “Utara”

 

 5. Sendangan : Nama arah mata angin “Timur”


 6. Kaima : Di tempat tersebut dahulu terdapat sebuah pohon “Kaima”


7. Sinuian : Sejarah mencatat bahwa pada tanggal 18 Juni 1901, penduduk Remboken telah “menipu” sekelompok orang “Mamu’is” (atau Mapupu'is), dengan "membalikkan kenyataan" dari apa yang dicari kelompok Mamu'is. Kelompok Mamu'is adalah kelompok pencari / pemenggal kepala orang yang pernah eksis pada sekitar tahun 1800-an hingga awal tahun 1900-an. Dalam peristiwa ini, Kelompok Mamu’is tidak berhasil mendapatkan kepala orang dari penduduk, tetapi justru kepala Mamu'is - lah yang dipenggal oleh penduduk, sehingga muncul istilah bahwa Mamu'is telah di "su'i" (artinya: dibalikkan kenyataannya) oleh penduduk. Penduduk menyebut lokasi terjadinya peristiwa itu dengan nama “Sinuian”, yang artinya “Tempat membalikkan kenyataan”.

 
 8. Parepei : Diambil dari nama Legenda Wangko Ni Parepei atau Si Raksasa Parepei / Si Parepei Bertubuh Raksasa. Legenda ini merupakan suatu legenda tentang kekuatan dan kekuasaan Orang Remboken pada sekitar abad ke-7 di kampung tersebut. Kampung kelahiran Si Raksasa Parepei ini, kemudian dinamakan desa Parepei.


9. Pulutan: tanah kampung ini banyak mengandung tanah liat, yang oleh penduduk disebut dengan “Tanah Pulut (tanah liat). Dari tanah liat (pulut) ini, penduduk kemudian mengembangkan produk gerabah hingga terkenal sampai ke negeri Jepang.



10. Kasuratan: Artinya, terdapat pohon Surat. Di kampung ini banyak terdapat jenis pohon Surat yang kulitnya digunakan untuk meracun ikan di danau Tondano. Versi lain mengatakan bahwa nama Kasuratan diambil dari kata “kinasuratan” yg artinya,: “sudah disuratkan atau sudah ditakdirkan” untuk merantau dan membangun negeri yang lain.

11. Tampusu: kondisi kampung ini adalah sebuah gunung, dan dari jauh terlihat berbentuk “pusu” atau “jantung”, sehingga penduduk menyebutnya,: “taum’pusu”, yg artinya “berbentuk seperti jantung”. Maka kemudian nama kampung dan gunung itu lebih dikenal dengan Tampusu.




30 Maret 2017

Benteng Moraya

Sejarah Lengkap Benteng Moraya Tondano 1801

Pada tahun 1801, ada kapal perang yang menembaki benteng Belanda di Manado. Setelah diselidiki ternyata kapal perang tersebut milik Inggris. Mengetahui ada konflik antara Belanda dan Inggris maka para Walak Minahasa meminta bantuan Inggris untuk mengusir Belanda. Dalam upaya mengusir Belanda, Gerrit Wuisang membeli senapan, mesiu, dan meriam dari Inggris.



Ketika Residen Dur digantikan oleh Residen Prediger, maka orang Tondano mulai menyiapkan diri untuk berperang melawan belanda. Dipimpin oleh Tewu (Touliang) dan Ma’alengen (Toulimambot), orang Tondano merasa yakin bahwa pemukiman mereka diatas air di muara tepi danau sulit diserang Belanda, tidak seperti pemukiman walak-walak Minahasa lainnya.



Pada tahun 1806, Benteng Moraya di Minawanua mulai diperkuat dengan pertahanan parit di darat dan pasukan dengan kekuatan 2000 perahu di tepi danau. Pemimpin Tondano mengikat perjanjian denga walak-walak Tombulu, Tonsea, Tontemboan, dan Pasan-Ratahan untuk mengirmkan pasukan dan bahan makanan. Pemimpin walak Minahasa lainnya yang membantu antara lain : Andries Lintong (Likupang), Umboh atau Ombuk dan Rondonuwu (Kalabat) Manopo dan Sambuaga (Tomohon), Gerrit Opatia (Bantik), Poluwakan (Tanawangko), Tuyu (Kawangkoan), Walewangko (Sonder), Keincem (Kiawa), Talumepa (Rumoong), Manampiring (Tombasian), Kalito (Manado), Kalalo (Kakas), Mokolengsang (Ratahan) sementara pemimpin pasukan Tondano pada awal peperangan adalah Kilapog, Sarapung dan Korengkeng.

Pada bulan Mei 1808, Minahasa sudah melarang Belanda pergi ke pegunungan, tapi pada tangal 6 Oktober, Belanda membawa pasukan besar yang terdiri dari serdadu dari Gorontalo, Sangihe, Tidore, Ternate, Jawa, dan Ambon dan mendirikan tenda-tenda di Tata´aran. Pada tanggal 23 Oktober, Belanda mulai menembaki benteng Moraya Tondano dengan meriam 6 pond. Namun, mereka tidak menyangka bahwa akan ada perlawanan dari pihak Tondano. Bahkan, tenda-tenda Belanda di Ta´aran mendapat kejutan setelah pasukan berani mati pimpinan Rumapar, Walalangi, Walintukan dan Rumambi menyerang di tengah malam. Pada bulan November, pimpinan utama Belanda Prediger terluka kepalanya akibat terkena tembakan di Tata´aran. Dia kemudian digantikan wakilnya Letnan J. Herder. Perang kemudian bertambah panas yang kemudian ditandai dengan perang darat dan perahu.



Sejarah Lengkap Benteng Moraya Tondano 18011809, Pemimpin tondano mendatangkan perahu Kora-Kora dengan memotong logistik bahan makanan dari Kakas ke Tondano. Pada tangal 14 April, pasukan Jacob Korompis menyerang tenda-tenda Belanda di Koya. Serangan yang dilakukan malam hari itu, JACOB berhasil merebut amunisi dan senjata milik Belanda. Tanggal 2 Juni Belanda melakukan perjanjian dengan kepala-kepala wala Minahsa lainnya. Kemudian pasukan –pasukan yang bukan orang Tondano muali meninggglakan Benteng Moraya karena bahan makanan muali berkurang. Dan yang tertinggal adalah pasukan dari Tomohon dan Kalabat.



Sejarah Lengkap Benteng Moraya Tondano 1801 Setelah Benteng Moraya jadi sunyi, sudah tidak terdengar lagi teriakan-teriakan perang dan bunyi–bunyi letusan senjata. Lalu pada suatu malam, Belanda menyerang Benteng itu dan membakar rata dengan tanah. Serangan itu dilakukan pada malam hari tanggal 4 Agustus dan pagi 5 Agustus. Dalam penyerangan tersebut, Belanda kemudian membumi hanguskan Benteng Morya Tondano. Pimpinan utama dari perang di Tondano adalah Tewu (Touliang), Lontho (Kamasi-Tomohon), Mamahit (Remboken), Matulandi (Telap) dan Theodorus Lumingkewas (Touliang). Mereka adalah kepala-kepala walak yang disebut “Mayoor” atau Tona’as perang.



1817, Pemberontak di Ambon memberontak terhadap kembalinya Belanda. Dibawah pimpinan Thomas Matulessy, yang juga dipanggil Pattimura, benteng Belanda di Saparua diambil. Dengan bala bantuan dari Batavia, benteng tersebut diambil kembali dan Matulessy dihukum mati.

1825-1830, Perang Jawa. Minahasa bertarung disisi Belanda dalam perang ini. Juga di bagian kepulauan lain untuk menundukkan pemberontakan. 


1820, Sebuah kelompok Calvinist, Masyarakat Misionaris Belanda, beralih dari sebuah kepentingan khusus di Maluku ke daerah Minahasa. Dengan adanya misionaris, datang misi sekolah, yang berarti bahwa, seperti di Ambon dan Roti, pendidikan Barat di Minahasa dimulai jauh lebih awal dibanding bagian lain di Indonesia.

1830, Pangeran Jawa dan pahlawan Indonesia Diponegoro diasingkan ke Manado oleh Belanda. Di Minahasa kewajiban untuk membuat perkebunan yang menghasilkan panen besar kopi murah untuk monopoli Belanda. Orang-orang Minahasa menderita dibawah "kemajuan" ini, bagaimanapun, ekonomi, agama dan hubungan sosial dengan penjajah terus bertambah.

1860, Konversi besar-besaran orang Minahasa ke agama Kristen, yang dilakukan oleh pihak Belanda, hampir komplit.

1881, Sekolah-sekolah misionaris di Manado adalah jerih payah pertama dari pendidikan masal di Indonesia dan tamatannya mendapat keuntungan yang lumayan dalam memperoleh posisi di pelayanan pemerintah, militer dan posisi penting lainnya. 
1881, F. 's-Jacob (1822-1901) ditunjuk sebagai Gubernur Genera. Di Minahasa kepala-kepala lokal memasuki jawatan pemerintah.

1889, Emas ditemukan di Sulawesi Utara. Pemerintah bereaksi dengan menunjuk langsung pemerintahan di Gorantalo dan menutup perjanjian-perjanjian dengan kerajaan lokal.

1945, Sekutu megebom Manado dengan berat. Selama perang kemerdekaan melawan kembalinya Belanda yang berikut, ada perpecahan berat antara kelompok yang pro-Indonesia dan yang lebih berpihak kepada federalisme yang disponsor oleh Belanda.

Penunjukan seorang Manado yang beragama Kristen, Sam Ratulangi, sebagai gubernur republik Indonesia timur yang pertama, menenentukan kemenangan dukungan Minahasa untuk republik.


1956, Eksport ilegal tumbuh dengan subur. Pada bulan Juni Jakarta memerintahkan penutupan pelabuhan Manado, pelabuhan penyelundupan yang paling sibuk di republik. Pemimpin lokal menolak hal tersebut dan Jakarta mundur.



February 1957, Soekarno mengumumkan bahwa lebih baik melaksanakan sistem "demokrasi pemerintah", eufinisme untuk sebuah pemerintahan yang otokratis.



March 1957, Pemimpin militer baik Sulawesi Selatan maupun Utara mengadakan sebuah konfrontasi terhadap pemerintah pusat, dengan tuntutan otonomi daerah yang lebih besar. Mereka menuntut pembangunan lokal yang lebih banyak, pembagian pendapatan yang lebih adil, menolong dalam menekan pemberontakan Kahar Muzakar di Sulawesi Selatan, dan sebuah kabinet pemerintahan pusat bersama yang dipimpin oleh Soekarno dan Hatta. Paling tidak awalnya pemberontakan "Permesta" (Piagam Perjuangan Semesta Alam) adalah sebuah reformis daripada sebuah gerakan separatis.



June 1957, Pemimpin Sulawesi Utara merasa tidak puas dengan perjanjian dan perpecahan gerakan Permesta. Diilhami, barangkali, oleh ketakutan akan dikuasai oleh pihak selatan, pemimpin memberikan pernyataan negara otonomi mereka sendiri dari Sulawesi Utara.

Lalu Soekarno menunjuk sebuah kabinet kerja dibawah komando R.H. Djuanda (1911-1963). Dia juga menunjuk sebuah "Dewan Nasional" yang terdiri dari beberapa "kelompok fungsionil".



October 1957, Setelah sebuah boikot pada bulan Desember, pemilik dari hampir 250 perusahaan Belanda dinasionalisasikan dan diumumkan bahwa 46.000 orang warga negara Belanda harus meninggalkan negara. Perwira TNI diangkat sebagai manajer dan direktur dari perusaan Belanda yang dicaplok.



1958, Selama perjalanan Soekarno kesejumlah negara Asia (Februari) pemberontak-pemberontak di Bukittingi (Sumatra-Barat) PRRI (Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia), dibawah pimpinan Sjafruddin Prawiranegara (1911-1989) memberontak. Walaupun pemberontakan tersebut tidak bermaksud untuk memisahkan diri dari Indonesia, Sukarno tidak ragu-ragu untuk membabat gerakan tersebut pada waktu kepulangannya. Kemungkinan campur tangan dari pihak luar akhirnya menggerakkan pemerintah pusat untuk mencari bantuan militer dari Sulawesi Selatan.

Angkatan perang Permesta diantar dari Sulawesi Tengah, Gorontalo, Kepulauan Sangihe dan dari Morotai di Maluku (dari lapangan terbang masing-masing, pemberontak sudah berharap untuk terbang serangan pengeboman ke Jakarta). Beberapa pesawat pemberontak tersebut (disediakan oleh Amerika dan diterbangkan oleh pilot-polot Filipina, Taiwan dan Amerika) dimusnahkan. US policy shifted, favoring Jakarta.

Angkatan udara mengebom kota-kota di daerah pemberontak (Padang, Bukittingi, Manado) dan tentara menaklukkan Medan dan kemudian Padang.



June 1958, Tentara pemerintah pusat mendarat di Sulawesi Utara dan menawan Manado. Namun gerak-gerik tersebut bahaya untuk Jakarta, karena di Ambom pemberontak mendapat bentuk bantuan dari Amerika dan Belanda. Juga Filipina, Cina Nasionalis (Taiwan) dan Malaysia yang mendukung pemberontakan. Jenderal Nasution merumuskan teori "dwifungsi" (fungsi ganda), dimana tentara, selain menjadi tenaga perjuangan, juga menjadi organisasi sosial dalam pelayanan perkembangan sosial negara.



1959, Kekuasaan pusat ditingkatkan di biaya otonomi lokal, nasionalisme radikal memperoleh sikap moderat yang pragmatis, kekuatan komunis dan Soekarno bertambah sedangkan Hatta menyusut, dan Soekarno mampu memperlihatkan "Panduan Demokrasi"nya.



1961, Pemberontakan Permesta akhirnya dipadamkan.



1967, Sulawesi Utara menjadi makmur dibawah Pemerintahan Orde Baru dari Presiden Soeharto, yang telah mengambil alih kantor. Banyak laporan ekonomi (tetapi sedikit perbaikan politik) yang dicari oleh pemberontak Permesta tercapai. Propinsi tersebut memiliki kebudayaan yang toleran dan memandang keluar. Masa depan akan memperlihatkan apa yang akan terjadi setelah pelaksanaan Otonomi Daerah, gagasan yang sangat diperjuangkan oleh Permesta.

 Sumber  : http://www.kapista.com/2016/10/sejarah-lengkap-benteng-moraya-tondano.html

Hubungi via :