met berkunjung

Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang

22 Juli 2012

Sejarah Kampung Makasar Jakarta Timur


  
Makam Dato Tonggara di belakang Kantor Kec.Kramat Jati


Menurut cerita asal muasal kampung Makasar ini karena pernah ada Dato atau Datuk dari Makasar Sulawesi yang tinggal didaerah ini.

Ini sedikit ceritanya :


Sejak tahun 1686 wilayah ini dijadikan tempat pemukiman orang-orang Makasar, dibawah pimpinan Kapten Daeng Matara.Mereka adalah bekas tawanan perang yang dibawa ke Batavia setelah kerajaan Gowa, dibawah Sultan Hasanuddin tunduk kepada Kompeni yang sepenuhnya dibantu oleh Kerajaan Bone dan Soppeng (Colenbrander 1925, (II):168).

Pada awalnya mereka di Batavia diperlakukan sebagai budak, kemudian dijadikan pasukan bantuan, dan dilibatkan dalam berbagai peperangan yang dilakukan oleh Kompeni. Pada tahun 1673 mereka ditempatkan di sebelah utara Amanusgracht, yang kemudian dikenal dengan sebutan Kampung Baru.
Mungkin merasa bukan bidangnya, tanah di Kampung Makasar yang diperuntukkan bagi mereka itu tidak mereka garap sendiri melainkan disewakan kepada pihak ketiga, dan akhirnya jatuh ke tangan Frederik Willem Preyer.
Salah satu puteri Daeng Matara menjadi isteri Pangeran Purbaya dari Banten yang memiliki beberapa rumah dan ternak di Condet, yang terletak sebelah barat Kampung Makasar. Perlu dikemukakan, bahwa pada tahun 1810 pasukan orang-orang Makasar oleh Daendels secara administrasi digabungkan dengan pasukan orang-orang Bugis.
Di Kelurahan Kramat Jati, salah satu tokoh masyarakat, Muhammad Saman menuturkan kalau Dato Tonggara merupakan pejuang Islam yang bertualang melawan penjajah sambil berdakwah. Dikatakannya, kalau Dato Tonggara sebelum menetap di Tana Betawi sudah melakukan perjalanan yang cukup panjang dari Timur Indonesia.

Tidak diketahui tepatnya, tahun berapa Dato Tonggara meninggalkan Makassar, Sulawesi Selatan untuk berdakwah bersama dengan pasukannya. Namun, menurut tokoh masyarakat di Kramat Jati, kalau Dato Tonggara meninggalkan seorang istri dan dua orang anak di tanah kelahirannya.

Siapa istri dan anak-anaknya, juga tidak diketahui. Lebih jauh, Samad menceritakan wialayah yang pertama di singgahi oleh Dato Tonggara dalam pengembaraannya adalah Flores. Dari situ, dia bersama dengan pasukannya kemudian bergerak ke Nusa Tenggara Timur (NTT) lalu menyeberang ke Pulau Jawa.

Di Pulau Jawa, Dato Tonggara kemudian memperdalam ilmu agamanya dengan berguru kepada Pangeran Jayakarta. Kemudian, dengan beberapa dato-dato lainnya yang sudah berada di Betawi menyebarkan Agama Islam.

Dalam catatan sejarah masyarakat Betawi, tokoh penyebar Islam di Betawi pada 1418 - 1527 M sangat gencar melakukan dakwah. Sehingga, pada masa itu, penyebaran Islam di Betawi mendapatkan perwlawanan keras dari penganut agama lokal.

Akibatnya, terjadi peperangan antara pihak Islam dengan penganut agama lokal dibawa pimpinan Prabu Surawisesa. Tercatat, pada masa penyebaran Islam di Betawi terjadi 15 kali peperangan.

Selain pasukan Dato Tonggara, juga yang terlibat dalam peperangan itu yakni Dato Tanjung Kait, Kumpo Datuk Depok, Dato Ibrahim Condet, dan Dato Biru Rawabangke. Pada peperangan itulah, pasukan Dato Tonggara banyak yang wafat. Sampai satu waktu, Dato Tonggara kehabisan pasukan.

Setelah pasukannya tiada, Dato Tonggara pergi ke hutan jati (sekarang Kramat Jati, red) yang jauh dari pusat kota. Kesendiriannya cukup lama, hingga dia menguasai kawasan tersebut mulai dari Kampung Makassar, Halim, Kramat Jati hingga Pondok Gede.

Wilayah kekuasaannya itu tak berpenghuni kecuali dirinya. Setiap ada orang yang hendak masuk ke wilayahnya, mendapat teguran dari dia. Karena, setiap malam hari dia beraptroli seorang diri di wilayah itu.

Tak lama kemudian, setelah lama menyendiri, Dato Tonggara mulai mempersilahkan orang menempati daerah kekuasaannya, hingga menjadi sebuah perkampungan. Sepenggal cerita itulah yang hingga saat ini diketahui masyarakat sekitar makam Dato Tonggara yang letaknya di Kelurahan Kramat Jati persis dibelakang Kantor Kecamatan Kramat Jati Jalan Raya Bogor. Tidak diketahui secara pasti kapan Dato Tonggara wafat, karena tidak ada tanda-tanda yang menandakan itu.


Sebagaimana yg ane ketahui baru2 ini, bahwa di Jakarta ada seorang Habib yg menutupi nasabnya dengan memakai gelar Dato Tonggara atau yg terkenal dengan Syekh Makassar atau Syekh Kramat Jati atau asal mula dinamakan Kampung Makassar di daerah Cililitan, Jakarta Timur. Ternyata beliau bernama Al-Habib Hasan bin Toha bin Yahya, yg berasal dari Tonggara, Sulawesi.
Suatu saat, orang tua ane dtng ke kediaman Al-Habib Zen bin Muhammad Al-Hadi MA, yg berlokasi di daerah Jl. Dato Tonggara, Kramat Jati, Jakarta Timur. Pada saat itu, Ayah ane bertanya kpd Hb. Zen tersebut :
“Bib, antum tau ga dmn makam kramat jati…?”
lalu Hb. Zen menjawab :
“Wah ane ga tau, dan ane baru dengar ada makam di Kramat Jati”
Lalu ayah ane berkata lagi :
“Itu, Bib, makamnya di samping Bet (rumah) antum”
Lalu beliau berkata :
“Dato Tonggara”
Ayah ane menjawab :
“Iya, Bib… Beliau itu Dzurriyah yg bernama Al-Habib Hasan bin Toha bin Yahya”
Mungkin karena sedikit tidak percaya, pd malam harinya Hb. Zen bertawassul kepada Allah agar dipertemukan dengan Shohibul Maqom Dato Tonggara. Walhasil, datanglah beliau dan berkata bahwa dirinya adalah Dato Tonggara dan memang bernama Hb. Hasan bin Toha bin Yahya. Dan beliau pun berpesan agar maqamnya dipugar dan jangan disalah-artikan sebagai tempat untuk mencari nomor buntut, dan serahkan kepengurusannya kepada cucunya.
Lalu Hb. Zen bertanya :
“Maksud habib yg disebut cucunya yg mana…?”
Lalu Dato Tonggara menjawab :
“Itu yg td datang ke tempat kamu dan berbicara dengan kamu”
Hb. Zen tersentak dan sambil menjawab :
“Ustadz Djunaidi Soheh”
Dan Dato Tonggara pun menjawab :
“Ya, dan dia adalah cucuku yg sebenarnya memiliki nasab yg sempurna kepadaku)”
Walhasil, dari pertemuan Hb. Zen dgn Dato Tonggara, esok harinya beliau langsung menelpon orang tua ane, dan sentak langsung memanggil Habib yg biasanya hanya memanggil Ustadz saja. Dan otomatis orang tua ane pun bertanya-tanya tentang panggilan tersebut, sebab tidak sembarangan bila seorang habib memanggil orang lain dengan sebutan habib pula yg terlihat seperti golongan ahwal. Namun Hb. Zen pun menceritakan pertemuannya dengan Dato Tonggara.
Pada pertemuan orang tua ane dg Hb. Zen di kemudiannya pada Hari Raya Idul Fitri kemarin, setiap ada Habaib yg dtng di kediaman beliau, beliau selalu mengatakan bahwa orang tua ane adalah termasuk habaib juga.
Di sini, ane ga bermaksud sombong atau takabbur dgn panggilan Hb. Zen kpd orang tua ane dgn “Habib” atau “Sayyid”, Bahkan ane merasa malu, karena orang tua ane sendiri tidak memiliki nasab seperti para Habaib lainnya yg terjaga. Justru ane mo mencari nasab ane yg sebenarnya seperti apa, karena ane cm tau nasab hnya sampai beberapa keturunan ke atas saja.
“Ahmad Syahid bin Ahmad Djunaidi bin Muhammad Soheh bin Saaba bin Saumin”
Mohon kiranya apabila ada di antara para Ikhwan yg dpt membantu ane, sebab menurut kakek ane, bahwa buyut ane yg bernama Saaba itu berasal dari Bugis.
Kurang lebihnya ane minta maaf yg tak terhingga, krn mungkin tak sepantasnya ane berada di forum ini, dan ane hnya berniat untuk menyambung dan menumbuhkan silaturrahmi saja. Dan semoga forum ini semakin mendapat keberkahan dan pencerahan bagi mereka yg membutuhkan.
Wassalam… 

Note : Cerita ini ane ambil dari Kaskus dll,sebagai pelengkap cerite ane ttg Kampung Makasar.
Jadi bukan cerite ane sendiri ( Bettawian ).Ane cuman sebagai orang nyang tinggal di Kampung Makasar.
           



2 komentar:

  1. afwan, ane tertarik ama kisah antum, ane juga org asli betawi dari cililitan, ane lagi ngegali sejarah condet cililitan ame kramat jati sekaligus cawang, mungkin kite bisa ngobrol lebih banyak lewat email dulu, ane tunggu respon antum ke email ana ; budidarmawan8@yahoo.com

    BalasHapus
  2. Makasih bang Budi udah mampir disini
    Maaf ane bukan orang yang banyak tahu sejarah Kampung Makasar kecuali dari taon 70 an smp taon 2000 an maklum ane sekarang udah jarang di Kampung Makasar dan malah lebih sering berada di Maluku Utara.
    InsyaAllah ane nengokin email ente.

    Salamnye mana nih..

    BalasHapus

Hubungi via :